July 2007


”SOFT skill” mendadak sohor. Sebuah penelitian dari
National Association of College and Employee (NACE)
2002 menempatkan indeks prestasi kumulatif (IPK) di
perguruan tinggi (PT) pada urutan ke-17. IPK kalah
oleh kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi,
kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, dan
bijaksana. Namun kemampuan komunikasi, bekerja sama,
interpersonal, etika, inisiatif, adaptasi, dan
analitik lebih penting daripada komputer. Bisa jadi
ada keraguan bahwa IPK tinggi adalah bagus, demikian
sebaliknya.

Perolehan IPK tinggi mulai diragukan oleh banyak
kalangan. Dampaknya, konsumen cenderung tidak terlalu
bersemangat merekrut alumni PT yang IPK-nya terlalu
tinggi. Bisa jadi IPK malah menyulitkan dalam setiap
penyelesaian pekerjaan lantaran egoisme diri tiap-tiap
individu terlalu tinggi sehingga mengabaikan kerja
sama dengan orang lain yang menjadi mitranya. Tentu
hal ini akan merugikan konsumen sebagai lembaga
sehingga produktivitas menjadi terganggu. Konsumen pun
pindah mencari figur yang dipandangnya mampu
mempertinggi produktivitas dan kemampuan team work
sebagai primadona baru seperti halnya soft skill.

Dalam dunia publik, posisi kesarjanaan menjadi penting
untuk karier para pejabatnya. Fenomena tersebut
didorong pula dengan persyaratan untuk menempati pos
lebih tinggi dengan gelar kesarjanaan mulai dari
strata 1 sampai strata 3. Bagi kalangan ini, soft
skill bukan hal yang asing termasuk berhadapan dengan
para pengajarnya. Dampak paling dekat, bisa jadi
kemampuan memperoleh IPK bagus bagi sebagian orang
cenderung disebabkan oleh soft skill-nya.

Kalangan mahasiswa muda (MM) sering kalah oleh
kalangan mahasiswa pegawai (MP) kendati kalangan
terakhir agak sulit membagi waktu kuliah dengan
bekerjanya. Bisa saja MP yang pejabat lebih diramahi
dosennya karena posisi publiknya. Tetapi tidak bisa MM
mengimitasi yang MP. Bagi MP kuliah dan lulus menjadi
persyaratan administratif untuk kariernya, sementara
bagi MM menjadi bekal hidupnya kelak dalam menjalani
hidup dan kehidupannya.

Dampak image bisa ke motivasi kuliah. Kejaran terhadap
nilai dan cepat lulus sering kali membuat MM lupa
bahwa ilmu dan wawasan menjadi lebih penting daripada
sekadar nilai tinggi. Cum laude mestinya ditafsirkan
sebagai penguasaan wawasan dan kekayaan sosial pun
menjadi paripurna. Kecenderungan konsumen mencari
pemilik soft skill mestinya mendorong MM menjadi
mahasiswa aktivis. Namun perlu dihindari kepercayaan
diri yang terlampau tinggi ketika menjadi aktivis
sehingga mengabaikan lingkungan sekitar. Pengabaian
ini bisa menciptakan stigma buruk sebagai mahasiswa
yang sombong dan meremehkan orang lain.

Pemupukan soft skill tentu melibatkan lembaga terkait
selevel Pembantu Rektor III, Pembantu Dekan III
ataupun Jurusan/Program Studi. Pembinaan dilakukan
supaya soft skill tidak melenceng menjadi kesombongan
pihak yang merasa memilikinya. Keterlibatan aktif
pembina, akan menyemarakkan kegiatan kemahasiswaan.
Tidak lagi terjadi mahasiswa aktif ketika penerimaan
mahasiswa baru dan musim ospek saja, sementara dalam
waktu yang lebih panjang paceklik dari kegiatan
kemahasiswaan. Mungkin tidak lagi terjadi organisasi
kemahasiswaan semacam HIMA, BEM, dan Senat sepi
peminat yang berdampak sepi pula kegiatannya.

Soft skill memang tidak ditentukan oleh prestasi
akademik (misalnya lulus cum laude) atau masa studi
singkat, seperti dikemukakan oleh Prof. Chaedar,
tetapi lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat
kepemimpinan, kreativitas, kerapian tampilan, dan
kecerdasan sosial. Oleh sebab itu, beliau memandang
program BEM dan UKM menjadi program pemberdayaan
kapasitas sehingga disampaikannya tujuh prinsip yang
dapat dilakukan, mulai dari peningkatan kemampuan
kolektif, demokratisasi pengetahuan, keberpihakan pada
lingkungan masyarakat, perubahan pola pikir, komitmen
tanpa paksaan, sebagai subjek kegiatan, dan integrasi
hasil program dan kegiatan nyata (“PR”, 15/05/07).

( Disarikan Dari KickAndy.com Ditulis Oleh My Idol : Andy F Noya )

left.gif




Salah satu komentar yang saya baca di website ini sempat membuat saya merenung. Komentar itu mengatakan saya kurang bisa berempati pada nasib orang kecil karena saya tidak pernah merasakan bagaimana menjadi orang susah.

Saya tidak tahu dalam konteks apa saya “dituduh” seperti itu. Kata orang, don’t judge a book by it’s cover. Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Saya dulu termasuk yang sering menilai orang dari tampilan luarnya.

Saya terkesan pada sebuah cerita Tiongkok kuno. Alkisah, seorang saudagar kaya kehilangan sekeping uang logam. Dia curiga uang itu dicuri anak tetangga yang menurut dia lagak dan lagunya mirip pencuri. Saat sedang bercuriga seperti itu, sang anak lewat dan tersenyum padanya. “Lihat, senyum itu khas senyum seorang pencuri. Lagak lagunya juga,” umpat si saudagar dalam hati. Muak betul dia melihat anak tetangga tersebut.

Namun ketika sang saudagar berbalik, tiba-tiba dari sakunya jatuh sekeping uang. “Ups, ternyata terselip di saku,” ujarnya dalam hati. Pada saat bersamaan, sang anak lewat lagi dan menunduk hormat pada sang saudagar. “Ah, kalau dilihat dari senyumnya, tampaknya dia anak yang baik dan hormat pada orangtua. Lagak lagunya juga santun,” ujarnya dalam hati. Kita memang sering menilai orang menurut persepsi kita. Bahkan kita sering memaksakan penilaian kita dengan mengabaikan fakta.

Suatu hari, saya menegur seorang reporter karena gagal mendapat berita yang tidak terlampau sulit. Saya menantang dia dengan mengatakan saya bisa mendapatkan berita tersebut. Apa jawabnya? “Mas Andy sih enak, naik mobil dan disupiri. Jadi gak merasakan susahnya di lapangan.”

Dia tidak salah. Ketika kuliah dulu, saya juga pernah mengatakan kepada GM “Om Pasikom” Sudarta bahwa saya ingin menjadi kartunis seperti dia karena penghasilannya besar. Dia tertawa. “Jangan lihat saya sekarang. Tapi lihat bagaimana proses saya untuk bisa menjadi seperti sekarang.”

Ayah saya tukang servis mesin tik, ibu penjahit. Dengan pertimbangan keuangan, saya dimasukkan sekolah teknik. Harapannya, jika tamat STM nanti saya bisa langsung bekerja.

Belum tamat STM, ayah meninggal. Saya terpaksa ikut kakak yang tinggal di Jakarta. Kami tinggal di sebuah gang sempit. Setiap hari pekerjaan rutin saya: pagi memandikan dua keponakan, menyiapkan sarapan mereka, mengantar ke sekolah, cuci baju, cuci piring, mengepel, jemput keponakan, mandi, makan siang, ke perpustakaan Soemantri Brojonegoro Kuningan, catat bahan-bahan kuliah sampai tangan pegal (tidak punya ongkos untuk fotokopi), lalu berangkat ke kampus.

Dalam seminggu saya harus bisa bertahan dengan uang Rp 5.000 di kantong. Caranya? Setiap hari saya pakai celana jins butut, sepatu butut, kaos oblong, lalu muka dibuat cuek. Kalau kondektur bus minta ongkos, pura-pura budek. Kalau kondektur naik pitam, turun di halte terdekat, pindah bus di belakangnya. Pokoknya bagaimana agar sampai kampus tanpa harus keluar ongkos. Ini namanya permainan adu nyali. Adu nyali sama kondektur dari Sumatera Utara yang sangar-sangar itu.

Di kampus, hindari teman-teman yang ngajak jajan. Kecuali kalau jelas ada yang ulang tahun dan mau nraktir. Tuhan maha adil. Dengan keterampilan membuat karikatur, setiap ada yang ulang tahun, atau saat lebaran, natalan, dan tahun baru-an selalu saja ada yang pesan kartu-kartu ucapan yang lucu-lucu. Hasilnya lumayan, terutama lebaran.

Logistik semakin kuat manakala cerpen-cerpen, kartun, dan artikel yang saya kirim ke berbagai majalah ada yang dimuat. Dari situ saya bertahan dan tidak menyusahkan kakak.

Semua pengalaman hidup itu membuat saya marah jika kepada pedagang kecil istri saya mencoba melakukan tawar-menawar hingga titik darah penghabisan. Tadinya dia bangga sebagai istri berhasil menghemat sejumlah uang belanja. Tapi, sekarang tawar menawar hanya untuk kepuasan. Setelah “menang”, uang kembalian diberikan kepada si pedagang.

Saya juga senang anak dan istri sekarang bisa memahami mengapa saya cepat iba pada mereka yang susah. Sebab saya pernah berada di posisi itu. Tapi, komentar bahwa saya kurang berempati kepada orang kecil karena saya tidak pernah susah, tetap akan saya jadikan bahan introspeksi. Mungkin itulah “sampul” yang dilihat oang tentang saya

Mereka Korban

Pernahkah melihat orang yang Anda cintai meregang nyawa di depan mata Anda? Bagaimana perasaan Anda? Seperti itulah yang saya rasakan. Mungkin menjadi lebih menyayat karena prosesnya lama dan menyakitkan . Apalagi yang sedang meregang nyawa seorang anak muda yang baru saja menginjak usia 20an.

Seharusnya perjalanan keponakan saya itu masih panjang. Lebih panjang dari saya. Tapi narkoba menghentikan langkahnya lebih awal. Dan saya tidak berdaya. Dia pergi dengan cara yang tidak selayaknya.

Ada perasaan sesak dalam hati. Apalagi adegan yang tidak bisa saya hapus dari ingatan itu juga disaksikan ayah, ibu dan adik-adiknya. Dalam kondisi sekarat, di balik alat bantu pernafasan, saya merasakan betapa tatapan matanya seakan hendak meminta tolong. Tapi saya tidak berdaya. Ayah dan ibunya pun tidak berdaya. Kedua adik perempuannya juga tidak berdaya. Sementara dokter sudah menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa pasrah melihat sakratul maut perlahan tapi pasti merampas nyawa keponakan saya dari raganya. Raga yang kurus dan tak berdaya akibat daya tahan tubuh yang melorot ke titik nadir.

Setelah peristiwa itu, keponakan saya yang lain, Heymard, yang juga terjerat dalam cengkeram barang-barang jahanam itu, mengirim sms kepada saya. “Om, aku sadar akan tiba giliranku mati dengan cara yang sama. Aku menyesal. Tapi semua sudah terlambat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku pasrah.”

Saya memcoba memberinya semangat untuk tidak menyerah. Termasuk mendorongnya masuk ke sebuah panti rehabilitasi di Jawa Tengah. Sebuah keputusan yang berat karena saya telah memisahkannya dari kedua orangtuanya dan dari lingkungan tempat dia tumbuh. Kedua lingkungan yang ternyata menjerumuskan dia ke dalam lubang gelap penuh ketidakpastian dan berujung kematian.

Ingatan saya kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun di mana saya menjaga Heymard ketika masih kanak-kanak, mengantarnya sekolah, memandikannya, menyuapinya dan mencintainya dengan sepenuh hati.

Namun setelah menikah dan berkeluarga, saya tidak dapat lagi mengikuti dengan seksama pertumbuhan mereka satu per satu. Belakangan baru saya tahu ternyata mereka tumbuh dalam situasi yang kurang mendukung. Baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Sampai suatu hari, sekitar lima tahun lalu, tiba-tiba kakak perempuan saya, ibunya Heymard, menelepon dalam balutan tangis yang memilukan. Dia melapor lemarinya baru saja dibongkar. Dia tahu siapa yang melakukannya. Sebab ini bukan yang pertama kali. Sudah sekian lama dia mencoba menyembunyikan dari saya bahwa satu per satu barang-barang di rumahnya lenyap tak berbekas. Benda-benda itu berganti dengan obat-obatan terlarang yang menjadi konsumsi sang anak tercinta.

Jika malam itu akhirnya dia menelepon saya, bukan karena urusan uang yang dicuri tapi lebih karena kakak saya ketakutan karena sebelum meninggalkan rumah sang anak dalam keadaan “sakau”. Kakak saya khawatir terjadi sesuatu pada sang anak tercinta. Saat itulah saya baru mengetahui dua keponakan saya terlibat narkoba. Bahkan kondisi mereka sudah parah.

Malam itu juga saya menelusuri lorong-lorong di sebuah perkampungan di daerah Kebayoran. Hati saya pilu ketika menemukan keponakan tercinta sedang “sakau” berat karena baru saja menyuntikkan sesuatu ke lengannya.

Perasaan sedih dan kecewa berubah menjadi amarah yang meledak. Saya tidak mampu mengendalikan diri dan betindak kasar (yang saya sesali sampai sekarang). Saat itu matanya yang menatap nanar seakan tidak lagi mengenali saya. Ah, betapa semakin hancurnya hati ini.

Maka ketika Alain, keponakan yang meregang nyawa tadi akhirnya pergi untuk selama-lamanya, saya kembali belajar satu hal tentang kehidupan. Mereka anak-anak yang tidak bersalah, mereka hanyalah korban. Korban situasi rumahtangga yang tidak harmonis. Mereka anak-anak yang miskin cinta kasih, anak-anak yang kesepian di rumahnya sendiri. Mereka memendam derita yang tak terkatakan dan mereka mencari jawabnya melalui cara yang salah.

Walau terlambat, saya bersyukur Heymard dapat bertahan sampai sekarang. Daya tahan tubuhnya memang sangat rentan namun sudah lebih dari dua tahun Heymard mencoba bangkit dengan bantuan pemilik panti dan dukungan sesama pecandu – yang rata-rata sebaya – yang juga sedang berjuang untuk pulih dari ketergantungan.

Karena itu saya merasa bersalah ketika suatu ketika mengijinkan Heymard kembali ke Jakarta. Baru dua hari kembali ke rumah, saya dapat kabar Heymard masuk ICU di sebuah rumah sakit akibat over dosis. Malam itu juga saya meluncur ke rumah sakit dan berjanji jika dia selamat, saya akan segera mengembalikannya ke panti rehabilitasi di Jawa Tengah.

Tapi, dua hari kemudian sebelum sempat dia berangkat ke Jawa Tengah, tiba-tiba datang lagi kabar keponakan saya ditangkap polisi karena sedang menggunakan narkoba bersama sejumlah anak jalanan. Secepat itukah? Bukankah dia baru saja over dosis dan nyaris kehilangan nyawa? Saya lagi-lagi disadarkan betapa cengkeraman narkoba sudah begitu mengerikan.

Setelah bebas, kini Heymard mulai hidup normal di panti rehabilitasi. Ibunya sudah pasrah dan merelakan berpisah dengan anak laki-laki satu-satunya itu ” Aku lebih rela melihat dia hidup normal walau jauh di mata daripada pulang dan terpangaruh teman-temannya,’ ujar kakak saya. Saya merasakan kepedihan yang luar biasa. Tapi itulah harga yang harus dibayarnya.

Tampilnya Ronny Pattinasarany di Kick Andy, yang mengungkapkan kisah pedih dan perjuangannya untuk menyelamatkan dua putranya dari jerat narkoba, sungguh memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak keluarga lain yang mengalami hal yang sama.

Upaya yang dilakukan Ronny dan Stela istrinya dalam berjuang merebut kembali cinta kedua anaknya dari bandar narkoba, semakin membuktikan bahwa cinta kasih yang tulus dari keluarga merupakan cara ampuh untuk menyelamatkan anak-anak dari cengkeraman obat-obatan jahanam itu. Sebab mereka adalah korban. Mereka seharusnya dipeluk, dibelai, dan dicintai untuk bisa terlepas dari ketergantungan. Bukan sebaliknya mengucilkan dan menghakimi mereka dan membiarkan anak-anak tak berdosa itu tenggelam semakin dalam.

(Disarikan dari KickAndy.Com yang Ditulis Oleh Andy F Noya )